Waspadai Vertigo bisa berujung dengan Stroke

vertigo

Pernahkah Anda merasakan ini: pusing tujuh keliling hingga semua tampak berputar, mual, dan anggota badan terasa lunglai? Itulah Vertigo. Dan bila Anda pernah mengalami hal itu, tak ada salahnya meluangkan waktu untuk berkonsultasi ke dokter. Sebab, ada kalanya vertigo merupakan manifestasi dari gangguan lain yang lebih serius. ”Problem di telinga bagian dalam bisa menjadi penyebab. Namun itu bukan satu-satunya,” kata Dr. Low Wong Kein, kepala bagian telinga, hidung, tenggorokan (THT) General Hospital, Singapura.

Selain problem di telinga bagian dalam, katanya, vertigo bisa juga disebabkan oleh adanya gangguan di otak, jantung, peredaran darah serta gangguan-gangguan lain yang lebih serius. Sebut misalnya stroke. Karena itu setiap menemukan kasus vertigo, kita harus selidiki secara cermat dan hati-hati untuk menemukan penyebabnya.

Menurutnya, stroke yang terjadi di sekitar bagian otak yang mengontrol keseimbangan bisa saja memicu vertigo. Si penderita akan merasa bahwa bumi di sekelilingnya berputar, namun hanya sebentar. Lain halnya dengan stroke di bagian tubuh yang lain. Ini akan membuat anggota badan si penderita lunglai. Jadi, bila Anda merasa pusing tujuh keliling, tapi sebentar kemudian hilang, ingatlah akan kemungkinan stroke.

Dan stroke, kata Low, sangat rentan di kalangan orang-orang yang berusia lanjut terutama yang menderita tekanan darah tinggi, diabetes dan kadar kolesterol tinggi. ”Para orang tua yang merasakan tiga keluhan ini (hipertensi, diabetes dan kolesterol tinggi) saya anjurkan untuk berhati-hati sebab keadaan itu membuat mereka lebih mudah terkena stroke.”

Namun perlu diketahui tak selamanya vertigo merupakan pertanda dari gangguan-gangguan yang serius. Ada kalanya vertigo merupakan gejala dari gangguan yang ringan-ringan saja. Cuma barangkali karena ringan itulah, gangguan tersebut seringkali tidak tampak.

Salah satu gangguan umum yang bisa menimbulkan vertigo adalah vestibular neuronitis atau inflamasi syaraf vestibular yang menghubungkan organ keseimbangan di telinga bagian dalam dengan otak. Asal tahu saja, organ inilah yang memungkinkan seorang pesenam melakukan gerakan jungkir balik di udara, kemudian dengan mantap mendarat kembali di atas kedua kakinya. ”Bersama-sama dengan mata, anggota badan (tungkai dan lengan) serta otak, organ ini memberikan rasa keseimbangan pada seseorang,” ujar Low.

Dan jika suatu kali seseorang kehilangan rasa keseimbangan itu, apa yang sebaiknya dilakukan? Adakah obat yang bisa menolong? Hal utama yang perlu dilakukan ketika seseorang kehilangan keseimbangan adalah berbaring. Jangan coba-coba meredamnya dengan meminum parasetamol. Karena itu akan sia-sia. Kata Low, parasetamol tidak mempunyai efek apapun pada kemampuan keseimbangan seseorang.

Lalu kapan sebaiknya seseorang pergi ke dokter? ”Yaitu, jika pusing yang dirasakan tidak bisa dijelaskan oleh rasa lapar, lelah atau faktor-faktor umum lain. Selain itu jika pusing berlangsung terus menerus atau kerap kali kambuh.” Pada vestibular neuronitis, infeksi virus yang terjadi membuat si penderita terus menerus merasa pusing dan mual hingga nyaris kehilangan tenaga selama beberapa hari atau pekan. Perlu diketahui, vestibular neuronitis ini bisa merusak organ keseimbangan yang terserang itu hingga tidak mungkin diperbaiki lagi.

Bila ini terjadi, maka setelah infeksinya sembuh, otak terpaksa harus membiasakan diri ”berhubungan” dengan hanya satu organ keseimbangan saja, yaitu yang terdapat pada telinga yang tidak terserang infeksi. ”Itu seperti sebuah pesawat dengan mesin ganda. Jadi, jika salah satu mesin rusak, pesawat masih tetap bisa terbang,” tutur Low mengibaratkan.

Karena itu, untuk orang-orang yang tengah dalam masa penyembuhan dari infeksi ini, Low menyarankan agar tidak ragu-ragu untuk turun dari tempat tidur lalu menggerak-gerakkan anggota badan. Menurutnya, hal ini membuat otak akan lebih cepat terbiasa bekerja dengan satu organ keseimbangan. ”Obat-obatan mungkin bisa membantu mengurangi rasa pusing dan mual. Namun itu untuk sementara saja. Bagaimana pun obat tidak akan mampu mengajari otak bagaimana caranya memulihkan rasa keseimbangan itu.”

Mungkin ada di antara Anda yang bertanya, menularkah vestibular neuronitis ini? Berbeda dengan flu, infeksi pada syaraf vestibular ini tidak gampang menular. Namun sejauh ini masih diperdebatkan, apakah infeksi ini bersifat musiman, seperti flu. Ada memang yang mengatakan vestibular neuronitis merupakan vertigo epidemik. ”Terdapat catatan bahwa ada waktu-waktu tertentu di mana kasus ini lebih sering terjadi. Tapi nyatanya, sebegitu jauh belum ada orang yang bisa memastikan kapankah waktu-waktu yang dimaksud.”

Vestibular neuronitis, menurut Low, biasa menyerang orang dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Namun infeksi ini tidak lazim terjadi pada anak-anak. Yang agak ”menentramkan” barangkali adalah, vestibular neuronitis ini ternyata tidak terjadi lebih dari satu kali pada seseorang sepanjang hayatnya.

Sumber: republika.co.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s